BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
rangka meningkatkan sistem usaha pembangunan masyarakat supaya lebih produktif
dan efisien, diperlukan teknologi. Pengenalan
teknologi yang telah
berkembang di dalam masyarakat adalah teknologi yang telah dikembangkan secara
tradisional atau yang dikenal dengan "Teknologi Tepat Guna" atau teknologi sederhana
dan proses pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata
pencaharian pokok masyarakat tertentu.
Pertumbuhan
dan perkembangan teknologi, ditentukan oleh kondisi dan tingkat isolasi dan
keterbukaan masyarakat serta tingkat pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat tersebut. Untuk
memperkenalkan teknologi tepat guna perlu disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu
kebutuhan yang berorientasi kepada keadaan lingkungan geografis atau propesi
kehidupan masyarakat yang
bersangkutan. Teknologi yang
demikian itu merupakan barang baru bagi masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan
diketahui oleh masyarakat tentang nilai dan kegunaannya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
pemaparan dalam latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian teknologi
tepat guna?
2. Apa
jenis-jenis teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
3. Bagaimana
manfaat teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
4. Bagaimana
fungsi teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
5. Bagaimana
dampak teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
6.
Apa saja teknologi terapan dalam
pelayanan kebidanan bayi dan balita (obat dan vaksin)?
C.
Tujuan
Berdasarkan
pemaparan dalam rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Dapat
mengetahui pengertian teknologi tepat guna?
2. Dapat
mengetahui jenis-jenis teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
3. Dapat
mengetahui manfaat teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
4. Dapat
mengetahui fungsi teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
5. Dapat
mengetahui dampak teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
6.
Dapat mengetahui
teknologi terapan dalam pelayanan
kebidanan bayi dan balita (obat dan vaksin)?
D.
Manfaat
Disamping adanya tujuan, makalah ini diharapkan dapat menambah
wawasan mahasiswa tentang
teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan bayi dan balita (obat dan
vaksin).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Teknologi Tepat Guna
Teknologi
adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi
kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Teknologi tepat guna adalah suatu
alat yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat berguna serta sesuai dengan
fungsinya. Secara
teknis teknologi tepat guna merupakan jembatan antara teknologi tradisional dan
teknologi maju. Oleh karena itu,
aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan dimensi yang harus diperhitungkan dalam
mengelola teknologi tepat guna.
Dengan demikian teknologi tepat guna
mempunyai kriteria yaitu:
1. Teknologi sebanyak mungkin
mempergunakan sumber-sumber yang tersedia banyak disuatu tempat.
2. Teknologi sesuai dengan keadaan
ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
3. Teknologi membantu memecahkan
persoalan/masalah yang sebenarnya dalam masyarakat, bukan teknologi yang hanya
bersemayam dikepala perencananya.
Suatu yang harus diperhatikan bahwa,
masalah-masalah pembangunan boleh jadi memerlukan pemecahan yang unik dan khas,
jadi teknologi-teknologi tersebut tidak perlu dipindahkan ke negara-negara atau
kedaerah lain dengan masalah serupa. Apa yang sesuai disuatu tempat mungkin
saja tidak cocok dilain tempat. Maka dari itu tujuan teknologi tepat guna
adalah untuk pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tertentu dan
menganjurkan mengapa hal itu sesuai.
B.
Ciri-ciri Teknologi Tepat Guna
Ciri-ciri dari teknologi tepat guna
adalah sebagai berikut:
1.
Perbaikan teknologi tradisional yang selama ini menjadi
tulang punggung pertanian, industri, pengubah energi, transportasi, kesehatan
dan kesejahteraan masyarakat di suatu tempat.
2.
Biaya investasi cukup rendah/ relatif murah.
3.
Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara dan
didukung oleh keterampilan setempat.
4.
Masyarakat mengenal dan mampu mengatasi lingkungannya.
5.
Cara pendayagunaan sumber-sumber setempat termasuk sumber
alam, energi, bahan secara lebih baik dan optimal.
6.
Alat mandiri masyarakat dan mengurangi ketergantungan kepada
pihak luar (self-realiance motivated).
C.
Manfaat
Teknologi Tepat Guna
Penerapan
teknologi tepat guna adalah sebuah usaha pembaharuan. Meskipun pembaharuan itu
tidak mencolok dan masih dalam jangkauan masyarakat, tetapi harus diserasikan
dengan keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat serta alam.
Banyak orang keliru dalam berpendapat kalau orang membawa pompa bambu, biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, maka orang itu telah menerapkan teknologi tepat guna. Membawa paket-paket teknologi sederhana tersebut kesebuah desa belum dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi tepat guna, bahkan dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat desa tersebut, bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut. Paling ideal penerapan teknologi tepat guna adalah teknologi yang telah ada pada suatu masyarakat dan perbaikan itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.
Banyak orang keliru dalam berpendapat kalau orang membawa pompa bambu, biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, maka orang itu telah menerapkan teknologi tepat guna. Membawa paket-paket teknologi sederhana tersebut kesebuah desa belum dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi tepat guna, bahkan dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat desa tersebut, bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut. Paling ideal penerapan teknologi tepat guna adalah teknologi yang telah ada pada suatu masyarakat dan perbaikan itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.
Penerapan
teknologi tepat guna juga harus
mempertimbangkan keadaan alam sekitar. Dapat diartikan bahwa dampak lingkungan
yang disebabkan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) harus lebih kecil
dibandingkan pemakaian teknologi tradisional maupun teknologi maju. Dengan demikian manfaat
dari teknologi tepat guna itu dapat dirasakan oleh masyarakat tersebut.
Sebagai
mana manfaat dari teknologi tepat guna adalah:
1. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
yang makin hari makin meningkat, tentu hal itu diiringi dengan kemampuan
masyarakatnya yang mampu mengoperasionalkan dan memanfaatkan teknologi tepat
guna tersebut.
2. Teknologi tepat guna mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhannya, pemecahan
masalahnya dan penambahan hasil produksi yang makin meningkat dari biasanya.
Teknologi tersebut relatif mudah dipahami mekanismenya, mudah dipelihara dan
mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Teknologi tepat guna dapat
mempermudah dan mempersingkat waktu pekerjaan tenaga kesehatan dan klien.
4. Masyarakat mampu mempelajari,
menerapkan, memelihara teknologi tepat guna tersebut.
5. Masyarakat/klien bisa lebih cepat
ditangani oleh tenaga kesehatan.
6. Hasil diagnosa akan lebih akurat,
cepat, dan tepat.
D.
Fungsi Teknologi Tepat Guna
Fungsi
dari teknologi tepat guna adalah:
1.
Alat kesehatan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat setempat.
2.
Biaya yang digunakan cukup rendah dan relatif murah.
3.
Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara.
4.
Mengurangi kesalahan dalam mendiagnosis suatu penyakit.
E.
Dampak Teknologi Tepat Guna Dalam Kebidanan
1.
Dampak positif sebagai berikut:
a) Dengan adanya teknologi tepat guna
dalam kebidanan, maka masyarakat akan mendapat kemudahan dalam menjaga
kesehatan yang lebih efisien dan efektif.
b) Teknologi yang ada, dapat membuat
kegiatan khususnya di dalam kebidanan akan lebih sederhana dan mudah.
2.
Dampak negatif sebagai berikut :
a) Jika penggunaannya teknologi tepat
guna tidak sesuai dengan lingkup yang memerlukan maka itu akan sia-sia. Contoh
penggunaan USG di daerah pedalaman, disana tidak orang yang mengelolanya dan
tidak sesuai dengan kebudayaan masyarakat disana.
b) Dengan ketidaktepatan penggunaan
alat tersebut maka akan berdampak buruk terhadap pasien. Contoh : penggunaan
USG pada pasien dengan cara-cara yang tidak tepat.
c) Penggunaan teknologi pada daerah
pedalaman dengan tenaga yang tidak ahli akan menimbulkan resiko terhadap
pasien.
F. Teknologi Terapan pada Bayi dan Balita
Teknologi
terapan pada bayi dan balita dalam pelayanan kebidanan dapat berupa obat dan
vaksin, yang biasa diberikan pada bayi dan balita berupa pemberian imunisasi.
Imunisasi adalah suatu usaha
memberikan kekebalan pada bayi dan
anak terhadap penyakit tertentu,
sedangkan vaksin adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan kedalam
tubuh/anak yang disebut antigen. Dalam
tubuh antigen akan bereaksi dengan anti
body sehingga akan terjadi kekebalan.
Ada dua jenis kekebalan yang bekerja
dalam tubuh bayi/anak:
1. Kekebalan Aktif
Kekebalan
aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap
suatu penyakit tertentu, dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.
Kekebalan aktif dapat dibagi dalam 2 jenis:
a) Kekebalan aktif alamiah, dimana
tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu
penyakit, misalnya anak yang telah menderita campak setelah sembuh tidak akan
terserang campak lagi karena tubuhnya
telah membuat zat penolak terhadap penyakit tersebut.
b) Kekebalan aktif buatan, yaitu
kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin ( imunisasi) misalnya anak
diberi vaksinasi BCG, DPT, Polio dan lainnya.
2. Kekebalan Pasif
Kekebalan
pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat anti body sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar
setelah memperoleh zat penolak, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan
lama. Kekebalan pasif dapat terjadi dengan 2 cara:
a) Kekebalan pasif alami atau kekebalan
pasif bawaan yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira
-kira sekitar 5 bulan) misalnya difteri, morbili dan tetanus.
b) Kekebalan pasif buatan, dimana
kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya
suntikan ATS
Tujuan dan pemberian imunisasi
adalah:
1.
Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu
2.
Apabila terjadi penyakit, tidak akan terlalu parah dan dapat
mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
Jenis-jenis vaksin:
1. Imunisasi Hepatitis
B
Imunisasi Hepatitis B
pertama (HB 0) diberikan 1-2 jam setelah pemberian Vitamin K1 secara
intramuskular. Imunisasi Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi
Hepatitis B terhadap bayi, terutama pada jalur penularan ibu-bayi. Penularan
Hepatitis pada bayi baru lahir dapat terjadi secara vertikal (penularan ibu ke
bayinya pada waktu persalinan) dan horisontal (penularan dari orang lain).
Dengan demikian untuk mencegah terjadinya infeksi vertikal, bayi harus
diimunisasi Hepatitis B sedini mungkin.
Imunisasi
Hepatitis B (HB-0) harus diberikan pada bayi umur 0 – 7 hari karena:
a.
Sebagian ibu
hamil merupakan carrier Hepatitis B
b.
Hampir
separuh bayi dapat tertular Hepatitis B pada saat lahir dari ibu pembawa virus
c.
Penularan
pada saat lahir hampir seluruhnya berlanjut menjadi Hepatitis menahun, yang
kemudian dapat berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati primer
d.
Imunisasi
Hepatitis B sedini mungkin akan melindungi sekitar 75% bayi dari penularan
Hepatitis B
2. BCG (Basille Calmette Guerin)
Imunisasi BCG berguna untuk mencegah
penyakit tuberculosis berat, misalnya TB paru berat. Imunisasi ini sebaiknya diberikan sebelum bayi berusia 2-3 bulan. Dosis untuk bayi kurang dari 1
tahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml disuntikan secara intradermal
dibawah lengan kanan atas. BCG tidak menyebabkan demam. Suntikan BCG akan meninggalkan
jaringan parut pada bekas suntikan.
3. Vaksin DPT (Difteri, pertusis, Tetanus)
Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk
memberi kekebalan aktif yang bersamaan terhadap penyakit Difteni, pertusis dan
tetanus.Vaksin pertusis terbuat dan kuman Bordetella pertusis yang telah
dimatikan, dikemaskan dengan vaksin difteria dan tetanus. Vaksin tetanus dikenal 2 macam
vaksin yaitu:
a) Vaksin yang digunakan untuk
imunisasi aktif ialah toxoid tetanus, kuman tetanus yang telah dilemahkan ada 3
macam:
1) Kemasan tunggal (TT)
2) Kemasan dengan vaksin difteri (DT)
3) Kemasan dengan vaksin dipteri dan
tetanus pertusis (DPT)
b) Kuman yang telah dimatikan yang
digunakan untuk imunisasi pasif yaitu ATS
Jadwal
pemberian:
1) Pada bayi umur antara 2-11 bulan
sebanyak 3 kali suntikan dengan selang 4 minggu secara IM atau sub kutan.
2) Imunisasi ulang lainnya diberikan
setelah umur 1,5-2 tahun
3) Diulang kembali dengan vaksin DT
pada usia 5-6 tahun
4) Diulang lagi pada umur 10 tahun
Anak
yang telah mendapat DPT pada waktu bayi diberikan DT satu kali saja dengan 0,5
cc dengan cara intra muskuler, dan yang tidak mendapat DPT pada waktu bayi
diberi, DT sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu dosis 0,5 cc secara intra
muskuler. Apabila hal ini meragukan tentang vaksinasi yang didapat pada waktu
bayi maka akan tetap diberikan 2 kali suntikan. Bila bayi mempunyai riwayat
kejang sebaiknya DPT diganti dengan DT dengan cara pemberian yang sama dengan
DPT.
Reaksi
yang mungkin terjadi setelah pemberian imunisasi adalah demam ringan,
pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan selama 1-2 hari,
Kadang-kadang reaksi lebih berat seperti demam tinggi dan kejang. Hal ini biasanya disebabkan oleh
unsur pertusisnya.
Kekebalan yang diperoleh dari
vaksinasi DPT adalah:
1) Vaksin difteri 80-95 %
2) Vaksin pertusis 50-60 %
3) Vaksin tetanus 90-95 %
Kontra Indikasi:
1)
Anak sedang
sakit
2)
Riwayat
kejang bila demam
3)
Panas tinggi
4)
Penyakit
gangguan kekebalan
4. Vaksin polio
Tujuan pemberian vaksin polio adalah
untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomeilitis.Vaksin polio
terdapat dalam 2 kemasan:
a) Vaksin yang mengandung virus polio
yang sudah dimatikan (vaksin Salk) yang cara pemberiannya dengan suntikan
b) Vaksin yang mengandung virus polio
yang masih hidup yang telah dilemahkan (virus cabin ) cara pemberiannya melalui
oral/ mulut dalam bentuk cairan dan pill.
Jadwal pemberian vaksinasi polio:
1) Pada bayi umur 2-11 bulan diberi
sebanyak 3 kali pemberian dengan dosis 2 tetes dengan interval 4 minggu
2) Pemberian ulangan pada umur 1,5-2
tahun
3) Menjelang umur 5 tahun
4) Pada umur 10 tahun
Kontra indikasi:
1) Diare berat
2) Anak sakit parah
3) Anak menderita defisiensi kekebalan
5. Vaksin Campak
Tujuan pemberian vaksin campak adalah untuk
mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak. Vaksin campak mengandung virus
campak hidup yang sudah dilemahkan.Vaksin campak yang digunakan di Indonesia
dapat diperoleh dalam kemasan kering tunggal dikombinasikan dengan vaksin
gondongan mumps dan Rubella (campak Jerman). Di Amerika dikenal dengan nama MMR
(Meastes,Mumps, Rubella).
Jadwal pemberian vaksin campak
adalah pada umur 9-11 bulan dengan satu kali pemberi dengan dosis 0,5 cc dengan
suntikan subcutan. Apabila pemberian vaksin campak kurang dari 9 bulan
harus diulangi pada umur 15 bulan.
Kekebalan yang diperoleh pada
pemberian vaksinasi campak sekitar 96-99 %. Sedangkan reaksi yang timbul tidak
ada, mungkin hanya demam ringan dan nampak sedikit merah pada pipi, di bawah
telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan, mungkin pembengkakan pada tempat
penyuntikan. Efek samping sangat jarang mungkin terjadi kejang yang
ringan dan tidak berbahaya hari 10-12 setelah penyuntikan. Dapat terjadi radang
otak (Ensefalitis/Ensepalopati) 30 hari setelah penyuntikan tetapi kejadian ini
jarang terjadi (1:1.000.000 orang).
Kontra indikasi pada pemberian
vaksinasi campak adalah
1. Anak yang sakit parah
2. Menderita TBC tanpa pengobatan
3. Defisiensi gizi dalam derajat berat
4. Defisiensi kekebalan
5. Demam yang lebih 38 derajat celcius.
6. Anak yang mempunyai riwayat kejang
diberikan dengan pengawasan dokter.
6. Vaksin MMR (measles, mumps, and rubella)
Adalah vaksin kombinasi antara
vaksin campak, parotitis, dan rubella. Vaksin MMR adalah suatu vaksin virus
hidup yang dilemahkan. Vaksin ini harus disimpan pada suhu dingin 5-8 oC. Efek samping vaksin parotitis
biasanya berupa pembengkakan kelenjar, demam ringan, nyeri tenggorokan dan pusing ruam.
7. Vaksin Haemophilus influenzae tipe b
( Hib)
Hinfluenzae tipe b merupakan bakteri
penyebab meningitis dan berbagai infeksi serius mengancam jiwa, seperti
pneumonia, epiglotitis dan sepsis pada bayi dan anak. Vaksin ini diberikan
dengan jadwal tiga dosis pada bayi ( bersama dengan DPT), ditambah satu
dosis booster pada umur 12 — 18 bulan. Sekarang tersedia pula vaksin konjugasi kombinasi
DPT-Hib
Efektifitas vaksin Hib sekitar 95 %
dan relatif aman meskipun menimbulkan reaksi lokal berupa rasa nyeri dan
kemerahan pada sekitar 5-15 % bayi.
8. Vaksin Tyfoid
Demam tifoid setiap tahun
menyebabkan 560.000 kematian secara global. Insiden demam tifoid tertinggi pada
umur 5-19 tahun sehingga diperlukan vaksin yang dapat memberikan imunitas
sebelum usia sekolah.
Vaksin oral tifoid hidup mengandung
strain Salmonella typhi yang dilemahkan, Pemberian vaksin ini setelah umur 6
tahun dan dikemas dalam tiga dosis dengan interval selang sehari (hari l, 3,
dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun.
9. Vaksin Varisela
Vaksin varisela adalah vaksin virus
hidup yang dilemahkan. Diberikan 2 kali pada anak umur
10-12 tahun yang belum terjangkit varisela dengan interval satu bulan. Efektifitasnya sekitar 80 %.
10. Vaksin Hepatitis A
Vaksin hepatitis A adalah vaksin
virus hepatitis A yang sudah diinakktivasi. Vaksin ini dianjurkan diberikan di
daerah dengan pajanan rendah pada umur lebih dan 2 tahun. lmunisasi dasar diberikan 3 kali
dengan interval 4 minggu dan dosis 360u.
Pada keadaan tertentu imunisasi
tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini bukan merupakan hambatan untuk
melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak
tidak menjadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah menghasilkan respon
imunologis sebagaimana yang diharapkan tetapi belum mencapai hasil yang
optimal. Dengan demikian kita harus menyelesaikan jadwal imunisasi dengan
melanjutkan imunisasi yang belum selesai.
1. Vaksin satu kali atau vaksin dengan
daya lindung panjang.
Untuk vaksin yang diberikan hanya satu kali saja atau vaksin
yang daya perlindungan nya panjang seperti vaksin BCG, campak, MMR, typhim dan
varilix, maka keterlambatan dari jadwal imunisasi yang sudah disepakati akan
mengakibatkan meningkatkan resiko tertular oleh penyakit yang ingin dihindari.
Setelah vaksin diberikan maka resiko terkena penyakit yang dapat dicegah dengan
vaksin tersebut akan hilang atau rendah sekali, bahkan usia yang lebih tua saat
menerima vaksin akan menghasilkan kadar antibodi yang cukup baik karena sistem
imunitas tubuhnya sudah sering matang.
2. Belum pernah mendapat imunisasi
Anak yang belum pernah mendapat
imunisasi terhadap penyakit tertentu, tidak mempunyai antibodi yang cukup untuk
menghadapi penyakit tersebut. Apabila usia anak sudah berada di luar jadwal
imunisasi dan dia belum pernah diimunisasi maka imunisasi harus diberikan kapan
saja pada umur berapa saja sebelum anak terkena penyakit tersebut, karena dia
sangat sedikit atau sama sekali belum punya antibodi.
3.
Imunisasi multidosis dengan interval tertentu
Untuk vaksin yang harus diberikan
beberapa kali dengan interval waktu tertentu agar kadar antibodi yang
diinginkan tercapai (diatas ambang pencegahan) seperti vaksin DPT, polio,
hepatitis B dan Hib, keterlambatan atau memanjang nya interval tidak
mempengaruhi respons imunologis dalam membentuk antibodi. Jumlah pemberian
imunisasi tetap harus dilengkapi upaya kadar ambang pencegahan bisa dicapai dan
anak terlindung dari penyakit. Keterlambatan akan menunda tercapainya ambang
kadar antibodi yang memberikan perlindungan.
Terdapat beberapa jenis vaksin
(umumnya vaksin mati) dengan daya perlindungan terbatas sampai kurun waktu
tertentu, membutuhkan imunisasi ulangan untuk meningkatkan lagi kadar antibodi.
Untuk jenis vaksin ini bila sudah waktunya harus dilakukan ulangan. Bila
ulangan terlambat atau tidak dilakukan, maka kadar antibodi yang sudah rendah
tersebut terutama anak-anak yang tidak pernah mendapat infeksi alamiah (yang
merupakan imunisasi alamiah) akan meningkatkan resiko terkena penyakit yang
ingin dicegah.
4.
Status imunisasi tidak diketahui atau meragukan
Anak yang mempunyai status imunisasi
yang tidak diketahui atau meragukan misalnya dokumentasi imunisasi yang buruk
atau hilang, menyebabkan ketidak pastian tentang imunisasi mana yang sudah dan
belum diberikan. Pada keadaan ini, anak harus dianggap rentan (susceptible)
dan harus diberikan imunisasi yang diperkirakan belum didapat. Tidak ada bukti
yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin MMR, varisela, Hib, hepatitis B,
campak, DPT atau polio akan merugikan penerima yang sudah imun.
|
Vaksin
|
Rekomendasi
bila imunisasi terlambat
|
||
|
BCG
|
1.
Usia <
12 bulan, boleh diberikan kapan saja
2.
Usia>
12 bulan, imunisasi kapan saja, dosis vaksin 0,1 ml intrakutan
|
||
|
DTPw
atau DTPn
|
1.
Bila
dimulai dengan DTPw boleh dilanjutkan dengan DTPa
2.
Berikan Td
pada anak ≥ 7 tahun, jangan DTPw atau DTPa apabila vaksin tersedia.
3.
Bila
terlambat, jangan mengulang pemberian dari awal tetapi Ianjutkan dan Lengkapi
imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun waktu/interval keterlambatan
dari pemberian sebelumnya.
4.
Bila belum
pernah imunisasi dasar pada usia < 12 bulan, ini diberikan sesuai
imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya.
5.
Bila
pemberian ke-4 sebelum ulang tahun ke 4, maka pemberian 5 secepat-cepatnya 6
bulan sesudahnya.
6.
Bila
pemberian ke 4 setelah umur 4 tahun, maka pemberian ke 5 tidak, perlu lagi.
|
||
|
Polio
Oral
|
Bila
terlambat, jangan mengulang pemberian dari
awal tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak
peduli berapapun jarak waktu/interval keterlambatan dan pemberian sebelumnya.
|
||
|
Campak
|
1.
Usia
antara 9-12 bulan, berikan kapan saja saat bertemu.
2.
Usia anak
1 tahun/lebih, berikan MMR
3.
Bila
sampai dengan umur 12 bulan belum dapat vaksin campak, MMR. Bisa diberikan kapan saja setelah berumur
1 tahun
|
||
|
Hepatitis
B
|
1.
Bila
terlambat, jangan mengulang pemberian dan awal, tetapi Ianjutkan. dan
lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak
waktu/interval dan pemberian sebelumnya.
2.
Anak dan
remaja yang belum pernah imunisasi hepatitis B kapan saja. Saat berkunjung.
|
||
|
Hib
|
Usia
saat ini
|
Riwayat
imunisasi
|
Rekomendasi
imunisasi
|
|
7-1
bln
|
1
dosis
|
1
x usia 7-11 bulan 2 bln Atau usia 12-15 bln
|
|
|
12-14
bln
|
2
dosis sebelum usia 12 bulan
|
Berikan
1 dosis
|
|
|
12-14
bln
|
1
dosis sebelum usia 12 bulan
|
Belikan
2 dosis
Interval
2 bln
|
|
|
15-59
bln
|
Jadwal
tidak lengkap
|
Berikan
1 dosis
|
|
Obat alami batuk pilek untuk bayi dan balita
Ada beberapa bahan alami yang sangat mudah anda
temukan di rumah, yang mana dapat anda manfaat sebagai obat batuk pilek
tradisional untuk bayi. Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Jeruk
nipis dan madu
Bahan alami yang satu ini sudah terkenal sejak dulu untuk meredakan
filek. Jika bayi tengah mengalami batuk filek dan telah berusia lebih dari 1
tahun maka dapat mencoba memberikan ramuan campuran jeruk nipis dan madu ini
untuk meredakan batuk pada bayi. Ramuan alami ini mampu meredakan gatal pada
tenggorokan serta dapat merangsang keluarnya air liur yang dapat meredakan
batuk bayi. Untuk anak-anak berusia 1-5 tahun sendiri takarannya adalah
setengah sendok teh dengan mencampurkan sedikit perasana air jeruk nipis dan
madu pada segelas air hangat. Usahakan si kecil meminum ramuan ini sebelum
tidur. Anda dapat memberikannya 3 kali sehari secara teratur
2.
Kunyit
Obat alami flu dan batuk pada si kecil lainnya adalah kunyit. Bahan
alami ini tentunya sangat aman apabila di konsumsi oleh si kecil. Kunyit
sendiri memiliki kemampaun untuk mengurangi inflamasi dan memperkuat daya tahan
tubuh bayi. Caranya juga tidak terlalu rumit, jika bayi atau balita masih
menyusui, maka dapat mengoleskan bubuk kunyit pada payudara sang ibu sebelum si
bayi menyusui. Anda juga dapat mencampurkan bubuk kunyit pada susu si kecil.
Untuk hasil yang efektif, berikan bubuk kunyit ini pada si kecil 2 kali sehari.
Tak cukup
pengobatan dari dalam. Pengobatan batuk dan pilek pada bayi dan balitapun dapat
di lakukan dari luar. Salah satunya adalah dengan memijat bayi menggunakan
minyak telon atau parutan bawang merah, sehingga bayi dapat merasa lebih hangat
dan juga nyaman.
Selain dari pada
itu, pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup. Asupan cairan juga sangat
perlu untuk di perhatikan. Jika anak masih menyusui, berikan ASI
sebanyak-banyaknya. Karena ASI sendiri mengandung zat-zat baik yang dapat
meningakatkan kekebalan tubuh si anak, sehingga dapat mempercepat proses
prnyembuhan si anak. Jika tidak, anda dapat memberikannya air putih hangat,
karena hal ini dapat memberikan rasa lega pada pencernaan. Hindarkan pula anak dari berbagai jenis hal
yang dapat memperparah kondisinya, seperti terpapar udara dingin, mengonsumsi
makanan berminyak dan makanan manis.
Jika batuk pilek
anak tidak kunjung mereda, maka bantuan medis sangat di perlukan untuk proses
penyembuhan yang secepatnya.
BAB
III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Teknologi Tepat Guna merupakan
teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional dan proses pengenalannya
banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok masyarakat
setempat.
Sebelum menggunakan TTG, terlebih
dahulu kita lakukan penerapan dari TTG tersebut kepada masyarakat.Dengan adanya
penerapan ini di harapkan masyarakatnya berubah dan mengerti tentang manfaat
TTG dan mampu menggunakan TTG tersebut dengan sebaik mungki. Sehingga penggunaa
dari TTG tersebut bermanfaat bagi masyarakat, yaitu dapat memenuhi kebutuhan
individu atau masyarakat karena kebutuhan masyarakat semakin hari semakin
meningkat.
B.
Saran
Teknologi tepat guna apabila
dimanfaatkan dengan baik maka akan memeperoleh hasil yang bermanfaat untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar