Sabtu, 17 Agustus 2019

Makalah Teknologi Tepat Guna


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang         
Dalam rangka meningkatkan sistem usaha pembangunan masyarakat supaya lebih produktif dan efisien, diperlukan teknologi. Pengenalan teknologi yang telah berkembang di dalam masyarakat adalah teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional atau yang dikenal dengan "Teknologi Tepat Guna" atau teknologi sederhana dan proses pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok masyarakat tertentu.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi, ditentukan oleh kondisi dan tingkat isolasi dan keterbukaan masyarakat serta tingkat pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi masyarakat tersebut. Untuk memperkenalkan teknologi tepat guna perlu disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu kebutuhan yang berorientasi kepada keadaan lingkungan geografis atau propesi kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Teknologi yang demikian itu merupakan barang baru bagi masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan diketahui oleh masyarakat tentang nilai dan kegunaannya.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.     Apa pengertian teknologi tepat guna?
2.     Apa jenis-jenis teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
3.     Bagaimana manfaat teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
4.     Bagaimana fungsi teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
5.     Bagaimana dampak teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
6.     Apa saja teknologi terapan dalam pelayanan kebidanan bayi dan balita (obat dan vaksin)?
C.    Tujuan
Berdasarkan pemaparan dalam rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.       Dapat mengetahui pengertian teknologi tepat guna?
2.       Dapat mengetahui jenis-jenis teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
3.       Dapat mengetahui manfaat teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
4.       Dapat mengetahui fungsi teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
5.       Dapat mengetahui dampak teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan?
6.       Dapat mengetahui teknologi terapan dalam  pelayanan kebidanan bayi dan balita (obat dan vaksin)?

D.    Manfaat
Disamping adanya tujuan, makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa tentang teknologi tepat guna dalam pelayanan kebidanan bayi dan balita (obat dan vaksin).

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teknologi Tepat Guna
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Teknologi tepat guna adalah suatu alat yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat berguna serta sesuai dengan fungsinya. Secara teknis teknologi tepat guna merupakan jembatan antara teknologi tradisional dan teknologi maju. Oleh karena itu, aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan  dimensi yang harus diperhitungkan dalam mengelola teknologi tepat guna.
Dengan demikian teknologi tepat guna mempunyai kriteria yaitu:
1.   Teknologi sebanyak mungkin mempergunakan sumber-sumber yang tersedia banyak disuatu tempat.
2.   Teknologi sesuai dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
3.   Teknologi membantu memecahkan persoalan/masalah yang sebenarnya dalam masyarakat, bukan teknologi yang hanya bersemayam dikepala perencananya.
Suatu yang harus diperhatikan bahwa, masalah-masalah pembangunan boleh jadi memerlukan pemecahan yang unik dan khas, jadi teknologi-teknologi tersebut tidak perlu dipindahkan ke negara-negara atau kedaerah lain dengan masalah serupa. Apa yang sesuai disuatu tempat mungkin saja tidak cocok dilain tempat. Maka dari itu tujuan teknologi tepat guna adalah untuk pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tertentu dan menganjurkan mengapa hal itu sesuai.

B.    Ciri-ciri Teknologi Tepat Guna
Ciri-ciri dari teknologi tepat guna adalah sebagai berikut:
1.       Perbaikan teknologi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian, industri, pengubah energi, transportasi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di suatu tempat.
2.       Biaya investasi cukup rendah/ relatif murah.
3.       Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara dan didukung oleh keterampilan setempat.
4.       Masyarakat mengenal dan mampu mengatasi lingkungannya.
5.       Cara pendayagunaan sumber-sumber setempat termasuk sumber alam, energi, bahan secara lebih baik dan optimal.
6.       Alat mandiri masyarakat dan mengurangi ketergantungan kepada pihak luar (self-realiance motivated).

C.    Manfaat Teknologi Tepat Guna
Penerapan teknologi tepat guna adalah sebuah usaha pembaharuan. Meskipun pembaharuan itu tidak mencolok dan masih dalam jangkauan masyarakat, tetapi harus diserasikan dengan keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat serta alam.
      Banyak orang keliru dalam berpendapat kalau orang membawa pompa bambu, biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, maka orang itu telah menerapkan teknologi tepat guna. Membawa paket-paket teknologi sederhana tersebut kesebuah desa belum dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi tepat guna, bahkan dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat desa tersebut, bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut. Paling ideal penerapan teknologi tepat guna adalah teknologi yang telah ada pada suatu masyarakat dan perbaikan itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.
Penerapan teknologi tepat guna  juga harus mempertimbangkan keadaan alam sekitar. Dapat diartikan bahwa dampak lingkungan yang disebabkan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) harus lebih kecil dibandingkan pemakaian teknologi tradisional maupun teknologi maju. Dengan demikian manfaat dari teknologi tepat guna itu dapat dirasakan oleh masyarakat tersebut.
Sebagai mana manfaat dari teknologi tepat guna adalah:
1.       Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin hari makin meningkat, tentu hal itu diiringi dengan kemampuan masyarakatnya yang mampu mengoperasionalkan dan memanfaatkan teknologi tepat guna tersebut.
2.   Teknologi tepat guna mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhannya, pemecahan masalahnya dan penambahan hasil produksi yang makin meningkat dari biasanya. Teknologi tersebut relatif mudah dipahami mekanismenya, mudah dipelihara dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Teknologi tepat guna dapat mempermudah dan mempersingkat waktu pekerjaan tenaga kesehatan dan klien.
4.       Masyarakat mampu mempelajari, menerapkan, memelihara teknologi tepat guna tersebut.
5.       Masyarakat/klien bisa lebih cepat ditangani oleh tenaga kesehatan.
6.       Hasil diagnosa akan lebih akurat, cepat, dan tepat.

D.  Fungsi Teknologi Tepat Guna
Fungsi dari teknologi tepat guna adalah:
1.       Alat kesehatan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
2.       Biaya yang digunakan cukup rendah dan relatif murah.
3.       Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara.
4.       Mengurangi kesalahan dalam mendiagnosis suatu penyakit.

E.  Dampak Teknologi Tepat Guna Dalam Kebidanan

1.   Dampak positif sebagai berikut:
a)      Dengan adanya teknologi tepat guna dalam kebidanan, maka masyarakat akan mendapat kemudahan dalam menjaga kesehatan yang lebih efisien dan efektif.
b)      Teknologi yang ada, dapat membuat kegiatan khususnya di dalam kebidanan akan lebih sederhana dan mudah.
2.   Dampak negatif sebagai berikut :
a)      Jika penggunaannya teknologi tepat guna tidak sesuai dengan lingkup yang memerlukan maka itu akan sia-sia. Contoh penggunaan USG di daerah pedalaman, disana tidak orang yang mengelolanya dan tidak sesuai dengan  kebudayaan masyarakat disana.
b)      Dengan ketidaktepatan penggunaan alat tersebut maka akan berdampak buruk terhadap pasien. Contoh : penggunaan USG pada pasien dengan cara-cara yang tidak tepat.
c)      Penggunaan teknologi pada daerah pedalaman dengan tenaga yang tidak ahli akan menimbulkan resiko terhadap pasien.

F.    Teknologi  Terapan pada Bayi dan Balita
Teknologi terapan pada bayi dan balita dalam pelayanan kebidanan dapat berupa obat dan vaksin, yang biasa diberikan pada bayi dan balita berupa pemberian imunisasi.
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan  pada bayi dan anak  terhadap penyakit  tertentu,  sedangkan vaksin adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan kedalam tubuh/anak yang  disebut antigen. Dalam tubuh antigen akan bereaksi  dengan anti body sehingga akan terjadi kekebalan.
Ada dua jenis kekebalan yang bekerja dalam tubuh bayi/anak:
1.     Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu, dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dapat dibagi dalam 2 jenis:
a)      Kekebalan aktif alamiah, dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu penyakit, misalnya anak yang telah menderita campak setelah sembuh tidak akan terserang campak lagi karena tubuhnya  telah membuat  zat penolak  terhadap penyakit tersebut.
b)      Kekebalan aktif buatan, yaitu kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin ( imunisasi) misalnya anak diberi vaksinasi BCG, DPT, Polio dan lainnya.
2. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat anti body sendiri  tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama. Kekebalan pasif  dapat terjadi dengan 2 cara:
a)      Kekebalan pasif alami atau kekebalan pasif bawaan yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari  ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira -kira sekitar 5 bulan) misalnya difteri, morbili dan tetanus.
b)      Kekebalan pasif buatan, dimana kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya suntikan ATS
Tujuan dan pemberian imunisasi adalah:
1.       Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu
2.       Apabila terjadi penyakit, tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.

Jenis-jenis vaksin:
1.       Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi Hepatitis B pertama (HB 0) diberikan 1-2 jam setelah pemberian Vitamin K1 secara intramuskular. Imunisasi Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama pada jalur penularan ibu-bayi. Penularan Hepatitis pada bayi baru lahir dapat terjadi secara vertikal (penularan ibu ke bayinya pada waktu persalinan) dan horisontal (penularan dari orang lain). Dengan demikian untuk mencegah terjadinya infeksi vertikal, bayi harus diimunisasi Hepatitis B sedini mungkin.
Imunisasi Hepatitis B (HB-0) harus diberikan pada bayi umur 0 – 7 hari karena:
a.   Sebagian ibu hamil merupakan carrier Hepatitis B
b.   Hampir separuh bayi dapat tertular Hepatitis B pada saat lahir dari ibu pembawa virus
c.   Penularan pada saat lahir hampir seluruhnya berlanjut menjadi Hepatitis menahun, yang kemudian dapat berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati primer
d.   Imunisasi Hepatitis B sedini mungkin akan melindungi sekitar 75% bayi dari penularan Hepatitis B
2.       BCG (Basille Calmette Guerin)
Imunisasi BCG berguna untuk mencegah penyakit tuberculosis berat, misalnya TB paru berat. Imunisasi ini sebaiknya diberikan sebelum bayi berusia 2-3 bulan. Dosis untuk bayi kurang dari 1 tahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml disuntikan secara intradermal dibawah lengan kanan atas. BCG tidak menyebabkan demam. Suntikan BCG akan meninggalkan jaringan parut pada bekas suntikan.

3.       Vaksin DPT  (Difteri, pertusis, Tetanus)
Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk memberi kekebalan aktif yang bersamaan terhadap penyakit Difteni, pertusis dan tetanus.Vaksin pertusis terbuat dan kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan, dikemaskan dengan vaksin difteria dan tetanus. Vaksin tetanus dikenal 2 macam vaksin yaitu:
a)      Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toxoid tetanus, kuman tetanus yang telah dilemahkan ada 3 macam:
1)      Kemasan tunggal (TT)
2)      Kemasan dengan vaksin difteri (DT)
3)      Kemasan dengan vaksin dipteri dan tetanus pertusis (DPT)
b)      Kuman yang telah dimatikan yang digunakan untuk imunisasi pasif yaitu ATS
Jadwal pemberian:
1)      Pada bayi umur antara 2-11 bulan sebanyak 3 kali suntikan dengan selang 4 minggu secara IM atau sub kutan.
2)      Imunisasi ulang lainnya diberikan setelah umur 1,5-2 tahun
3)      Diulang kembali dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun
4)      Diulang lagi pada umur 10 tahun
Anak yang telah mendapat DPT pada waktu bayi diberikan DT satu kali saja dengan 0,5 cc dengan cara intra muskuler, dan yang tidak mendapat DPT pada waktu bayi diberi, DT sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu dosis 0,5 cc secara intra muskuler. Apabila hal ini meragukan tentang vaksinasi yang didapat pada waktu bayi maka akan tetap diberikan 2 kali suntikan. Bila bayi mempunyai riwayat kejang sebaiknya DPT diganti dengan DT dengan cara pemberian yang sama dengan DPT.
Reaksi yang mungkin terjadi setelah pemberian imunisasi adalah demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan selama 1-2 hari, Kadang-kadang reaksi lebih berat seperti demam tinggi dan kejang. Hal ini biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya.
Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi DPT adalah:
1)      Vaksin difteri 80-95 %
2)      Vaksin pertusis 50-60 %
3)      Vaksin tetanus 90-95 %
Kontra Indikasi:
1)    Anak sedang sakit
2)    Riwayat kejang bila demam
3)    Panas tinggi
4)    Penyakit gangguan kekebalan

4.       Vaksin polio
Tujuan pemberian vaksin polio adalah untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomeilitis.Vaksin polio terdapat dalam 2 kemasan:
a)      Vaksin yang mengandung virus polio yang sudah dimatikan (vaksin Salk) yang cara pemberiannya dengan suntikan
b)      Vaksin yang mengandung virus polio yang masih hidup yang telah dilemahkan (virus cabin ) cara pemberiannya melalui oral/ mulut dalam bentuk cairan dan pill.
Jadwal pemberian vaksinasi polio:
1)    Pada bayi umur 2-11 bulan diberi sebanyak 3 kali pemberian dengan dosis 2 tetes dengan interval 4 minggu
2)    Pemberian ulangan pada umur 1,5-2 tahun
3)    Menjelang umur 5 tahun
4)    Pada umur 10 tahun

Kontra indikasi:
1)    Diare berat
2)    Anak sakit parah
3)    Anak menderita defisiensi kekebalan

5.     Vaksin Campak
Tujuan  pemberian vaksin campak adalah untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang sudah dilemahkan.Vaksin campak yang digunakan di Indonesia dapat diperoleh dalam kemasan kering tunggal dikombinasikan dengan vaksin gondongan mumps dan Rubella (campak Jerman). Di Amerika dikenal dengan nama MMR (Meastes,Mumps, Rubella).
Jadwal pemberian vaksin campak adalah pada umur 9-11 bulan dengan satu kali pemberi dengan dosis 0,5 cc dengan suntikan subcutan. Apabila pemberian vaksin campak kurang dari 9 bulan harus diulangi pada umur 15 bulan.
Kekebalan yang diperoleh pada pemberian vaksinasi campak sekitar 96-99 %. Sedangkan reaksi yang timbul tidak ada, mungkin hanya demam ringan dan nampak sedikit merah pada pipi, di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan, mungkin pembengkakan pada tempat penyuntikan. Efek samping sangat jarang mungkin terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya hari 10-12 setelah penyuntikan. Dapat terjadi radang otak (Ensefalitis/Ensepalopati) 30 hari setelah penyuntikan tetapi kejadian ini jarang terjadi (1:1.000.000 orang).
Kontra indikasi pada pemberian vaksinasi campak adalah
1.      Anak yang sakit parah
2.      Menderita TBC tanpa pengobatan
3.      Defisiensi gizi dalam derajat berat
4.      Defisiensi kekebalan
5.      Demam yang lebih 38 derajat celcius.
6.      Anak yang mempunyai riwayat kejang diberikan dengan pengawasan dokter.

6.     Vaksin MMR (measles, mumps, and rubella)
Adalah vaksin kombinasi antara vaksin campak, parotitis, dan rubella. Vaksin MMR adalah suatu vaksin virus hidup yang dilemahkan. Vaksin ini harus disimpan pada suhu dingin 5-8 oC. Efek samping vaksin parotitis biasanya berupa pembengkakan kelenjar, demam ringan, nyeri tenggorokan dan pusing ruam.

7.     Vaksin Haemophilus influenzae tipe b ( Hib)
Hinfluenzae tipe b merupakan bakteri penyebab meningitis dan berbagai infeksi serius mengancam jiwa, seperti pneumonia, epiglotitis dan sepsis pada bayi dan anak. Vaksin ini diberikan dengan jadwal tiga dosis pada bayi ( bersama dengan DPT), ditambah satu dosis booster pada umur 12 — 18 bulan. Sekarang tersedia pula vaksin konjugasi kombinasi DPT-Hib
Efektifitas vaksin Hib sekitar 95 % dan relatif aman meskipun menimbulkan reaksi lokal berupa rasa nyeri dan kemerahan pada sekitar 5-15 % bayi.

8.     Vaksin Tyfoid
Demam tifoid setiap tahun menyebabkan 560.000 kematian secara global. Insiden demam tifoid tertinggi pada umur 5-19 tahun sehingga diperlukan vaksin yang dapat memberikan imunitas sebelum usia sekolah.
Vaksin oral tifoid hidup mengandung strain Salmonella typhi yang dilemahkan, Pemberian vaksin ini setelah umur 6 tahun dan dikemas dalam tiga dosis dengan interval selang sehari (hari l, 3, dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun.
9.     Vaksin Varisela
Vaksin varisela adalah vaksin virus hidup yang dilemahkan. Diberikan 2 kali pada anak umur 10-12 tahun yang belum terjangkit varisela dengan interval satu bulan. Efektifitasnya sekitar 80 %.

10.  Vaksin Hepatitis A
Vaksin hepatitis A adalah vaksin virus hepatitis A yang sudah diinakktivasi. Vaksin ini dianjurkan diberikan di daerah dengan pajanan rendah pada umur lebih dan 2 tahun. lmunisasi dasar diberikan 3 kali dengan interval 4 minggu dan dosis 360u.
Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini bukan merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan tetapi belum mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian kita harus menyelesaikan jadwal imunisasi dengan melanjutkan imunisasi yang belum selesai.
1.     Vaksin satu kali atau vaksin dengan daya lindung panjang.
Untuk vaksin yang diberikan hanya satu kali saja atau vaksin yang daya perlindungan nya panjang seperti vaksin BCG, campak, MMR, typhim dan varilix, maka keterlambatan dari jadwal imunisasi yang sudah disepakati akan mengakibatkan meningkatkan resiko tertular oleh penyakit yang ingin dihindari. Setelah vaksin diberikan maka resiko terkena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut akan hilang atau rendah sekali, bahkan usia yang lebih tua saat menerima vaksin akan menghasilkan kadar antibodi yang cukup baik karena sistem imunitas tubuhnya sudah sering matang.
2.     Belum pernah mendapat imunisasi
Anak yang belum pernah mendapat imunisasi terhadap penyakit tertentu, tidak mempunyai antibodi yang cukup untuk menghadapi penyakit tersebut. Apabila usia anak sudah berada di luar jadwal imunisasi dan dia belum pernah diimunisasi maka imunisasi harus diberikan kapan saja pada umur berapa saja sebelum anak terkena penyakit tersebut, karena dia sangat sedikit atau sama sekali belum punya antibodi.

3.     Imunisasi multidosis dengan interval tertentu
Untuk vaksin yang harus diberikan beberapa kali dengan interval waktu tertentu agar kadar antibodi yang diinginkan tercapai (diatas ambang pencegahan) seperti vaksin DPT, polio, hepatitis B dan Hib, keterlambatan atau memanjang nya interval tidak mempengaruhi respons imunologis dalam membentuk antibodi. Jumlah pemberian imunisasi tetap harus dilengkapi upaya kadar ambang pencegahan bisa dicapai dan anak terlindung dari penyakit. Keterlambatan akan menunda tercapainya ambang kadar antibodi yang memberikan perlindungan.
Terdapat beberapa jenis vaksin (umumnya vaksin mati) dengan daya perlindungan terbatas sampai kurun waktu tertentu, membutuhkan imunisasi ulangan untuk meningkatkan lagi kadar antibodi. Untuk jenis vaksin ini bila sudah waktunya harus dilakukan ulangan. Bila ulangan terlambat atau tidak dilakukan, maka kadar antibodi yang sudah rendah tersebut terutama anak-anak yang tidak pernah mendapat infeksi alamiah (yang merupakan imunisasi alamiah) akan meningkatkan resiko terkena penyakit yang ingin dicegah.

4.     Status imunisasi tidak diketahui atau meragukan
Anak yang mempunyai status imunisasi yang tidak diketahui atau meragukan misalnya dokumentasi imunisasi yang buruk atau hilang, menyebabkan ketidak pastian tentang imunisasi mana yang sudah dan belum diberikan. Pada keadaan ini, anak harus dianggap rentan (susceptible) dan harus diberikan imunisasi yang diperkirakan belum didapat. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin MMR, varisela, Hib, hepatitis B, campak, DPT atau polio akan merugikan penerima yang sudah imun.

Vaksin
Rekomendasi bila imunisasi terlambat
BCG
1.    Usia < 12 bulan, boleh diberikan kapan saja
2.    Usia> 12 bulan, imunisasi kapan saja, dosis vaksin 0,1 ml intrakutan
DTPw atau DTPn
1.    Bila dimulai dengan DTPw boleh dilanjutkan dengan DTPa
2.    Berikan Td pada anak ≥ 7 tahun, jangan DTPw atau DTPa apabila vaksin tersedia.
3.    Bila terlambat, jangan mengulang pemberian dari awal tetapi Ianjutkan dan Lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun waktu/interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya.
4.    Bila belum pernah imunisasi dasar pada usia < 12 bulan, ini diberikan sesuai imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya.
5.    Bila pemberian ke-4 sebelum ulang tahun ke 4, maka pemberian 5 secepat-cepatnya 6 bulan sesudahnya.
6.    Bila pemberian ke 4 setelah umur 4 tahun, maka pemberian ke 5 tidak, perlu lagi.
Polio Oral
Bila terlambat, jangan mengulang pemberian dari  awal tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak waktu/interval keterlambatan dan pemberian sebelumnya.
Campak
1.    Usia antara 9-12 bulan, berikan kapan saja saat bertemu.
2.    Usia anak 1 tahun/lebih, berikan MMR
3.    Bila sampai dengan umur 12 bulan belum dapat vaksin campak, MMR.   Bisa diberikan kapan saja setelah berumur 1 tahun
Hepatitis B
1.    Bila terlambat, jangan mengulang pemberian dan awal, tetapi Ianjutkan. dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak waktu/interval dan pemberian sebelumnya.
2.    Anak dan remaja yang belum pernah imunisasi hepatitis B kapan saja. Saat berkunjung.
Hib
Usia saat ini
Riwayat imunisasi
Rekomendasi imunisasi
7-1 bln
1 dosis
1 x usia 7-11 bulan 2 bln Atau usia 12-15 bln
12-14 bln
2 dosis sebelum usia 12 bulan
Berikan 1 dosis
12-14 bln
1 dosis sebelum usia 12 bulan
Belikan 2 dosis
Interval 2 bln
15-59 bln
Jadwal tidak lengkap
Berikan 1 dosis

Obat alami batuk pilek untuk bayi dan balita
Ada beberapa bahan alami yang sangat mudah anda temukan di rumah, yang mana dapat anda manfaat sebagai obat batuk pilek tradisional untuk bayi.  Diantaranya adalah sebagai berikut.
1.     Jeruk nipis dan madu
Bahan alami yang satu ini sudah terkenal sejak dulu untuk meredakan filek. Jika bayi tengah mengalami batuk filek dan telah berusia lebih dari 1 tahun maka dapat mencoba memberikan ramuan campuran jeruk nipis dan madu ini untuk meredakan batuk pada bayi. Ramuan alami ini mampu meredakan gatal pada tenggorokan serta dapat merangsang keluarnya air liur yang dapat meredakan batuk bayi. Untuk anak-anak berusia 1-5 tahun sendiri takarannya adalah setengah sendok teh dengan mencampurkan sedikit perasana air jeruk nipis dan madu pada segelas air hangat. Usahakan si kecil meminum ramuan ini sebelum tidur. Anda dapat memberikannya 3 kali sehari secara teratur
2.   Kunyit
Obat alami flu dan batuk pada si kecil lainnya adalah kunyit. Bahan alami ini tentunya sangat aman apabila di konsumsi oleh si kecil. Kunyit sendiri memiliki kemampaun untuk mengurangi inflamasi dan memperkuat daya tahan tubuh bayi. Caranya juga tidak terlalu rumit, jika bayi atau balita masih menyusui, maka dapat mengoleskan bubuk kunyit pada payudara sang ibu sebelum si bayi menyusui. Anda juga dapat mencampurkan bubuk kunyit pada susu si kecil. Untuk hasil yang efektif, berikan bubuk kunyit ini pada si kecil 2 kali sehari.
Tak cukup pengobatan dari dalam. Pengobatan batuk dan pilek pada bayi dan balitapun dapat di lakukan dari luar. Salah satunya adalah dengan memijat bayi menggunakan minyak telon atau parutan bawang merah, sehingga bayi dapat merasa lebih hangat dan juga nyaman.
Selain dari pada itu, pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup. Asupan cairan juga sangat perlu untuk di perhatikan. Jika anak masih menyusui, berikan ASI sebanyak-banyaknya. Karena ASI sendiri mengandung zat-zat baik yang dapat meningakatkan kekebalan tubuh si anak, sehingga dapat mempercepat proses prnyembuhan si anak. Jika tidak, anda dapat memberikannya air putih hangat, karena hal ini dapat memberikan rasa lega pada pencernaan. Hindarkan pula anak dari berbagai jenis hal yang dapat memperparah kondisinya, seperti terpapar udara dingin, mengonsumsi makanan berminyak dan makanan manis.
Jika batuk pilek anak tidak kunjung mereda, maka bantuan medis sangat di perlukan untuk proses penyembuhan yang secepatnya. 

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Teknologi Tepat Guna merupakan teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional dan proses pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok masyarakat setempat.
Sebelum menggunakan TTG, terlebih dahulu kita lakukan penerapan dari TTG tersebut kepada masyarakat.Dengan adanya penerapan ini di harapkan masyarakatnya berubah dan mengerti tentang manfaat TTG dan mampu menggunakan TTG tersebut dengan sebaik mungki. Sehingga penggunaa dari TTG tersebut bermanfaat bagi masyarakat, yaitu dapat memenuhi kebutuhan individu atau masyarakat  karena kebutuhan masyarakat semakin hari semakin meningkat.

B.    Saran
Teknologi tepat guna apabila dimanfaatkan dengan baik maka akan memeperoleh hasil yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar